Aside

seandainya tiap kali pikiran untuk berlaku sama seperti petingkah menyebalkan mereka melintas, pikiran lain mau menyusup –  kau bukan mereka dan mereka tidak melulu sama denganmu

there will be the time to let your friends go. to let them go to achieve their dreams. to let them go to coloring their whole life. you maybe wont be the closest friend does they have. they will find someone else. when the time has come.. trust yourself it is not the end.

kembali diingatkan

ada keindahan terpancar tatkala melihat kejadian “memberi”. bahwa pada dasarnya tak dibutuhkan suatu alasan yang cukup jelas ketika kita mau melakukannya. kesampingkan dulu nominal. juga pantaskah mereka yang menerima. keindahan itu nyata adanya saat kita sungguh tak tahu apa-apa. hanya sekedar memberi tanpa embel-embel apapun.

ia pengemudi motor pretelan yg membonceng teman di belakangnya. tergesa mencari-cari uang di saku kemeja tatkala mendapati serang bapak peminta tua di depan motornya. saat akhirnya ia berdiri merogoh saku celana menemukan dimana uangnya berada. tanpa pandangan mencela atau bangga sudah berbuat apa ia haturkan uang tadi ke bapak peminta. sementara teman di belakangnya tetap asyik duduk di boncengan sambil merokok ceria.

indah bukan memberi itu? satu hal yang mengingatkan bahwa sikap tak pamrih itu masih ada di sekitar kita

.

[ulasan] what if

20160123_165812

Judul: What If – seandainya jalan menujumu selalu terbentang

Penulis: Morra Quatro

Editor: Idha Umamah

Penerbit: GagasMedia

ISBN: 979-780-833-5

Halaman: viii + 280 hlm; 13 x 19 cm

Cetakan pertama, 2015

 

Apa yang berbeda itu memang tidak pantas bersama?

Satu lagi. Ini tentang kisah cinta dua insan manusia. Si Anal, yang sangat detail dengan Si Begajulan – penyuka basket, pemain gitar, juga perayu ulung. Sejak kali pertama pertemuan mereka di bawah langit siang itu ada sekelumit kisah cinta yang datang bersamanya. Namun, sanggupkah mereka menyeberangi jurang perbedaan yang begitu mendasar di hadapan keduanya saat ini?

Untuk kedua kalinya saya membaca buku ini. Cukup lama untuk membuat saya berpikir dan merenung. Dua hal yang sering saya lewatkan setiap kali selesai membacai sebuah buku. Bukan tidak sempat, hanya saja terlalu banyak hal yang lalu lalang di dalam alam pikiran ini. Meskipun, malas juga satu diantara banyak hal itu.

Namun, ini berbeda. Buku ini. Seperti perbedaan yang melatarbelakangi  kisah Jupiter dan Kamila. Si Anal dengan Si Begajulan. Buku ini berbeda dengan caranya sendiri. Terasa cukup. Dan penuh. Tak berlebihan di satu sisi juga tak menyudutkan di sisi lain. Penulis menceritakan tokoh-tokohnya secara pas dan seimbang. Tidak berat sebelah – satu poin yang saya sangat saya nantikan cukup lama setiap kali menyelami dunia bacaan yang berbau perbedaan.

Barangkali, memang saya sudah jatuh hati  dengan para tokoh-tokoh di setiap buku yang penulis tulis. Seperti layaknya Forgiven, Believe, dan juga Notasi. Kali ini pun saya kembali jatuh. I dont’t know how. I don’t know why. And I just did. Tokoh-tokoh dalam What If ini likeable.  Seperti Kamila; sosoknya yang cute, tangguh dan kritis,  meskipun ia anal, Jupiter;  dengan mata cokelatnya yang pede mampus, perayu ulung, juga begajulan, serta Finnigan; sosoknya yang tinggi atletis, yang tampan, santun dan penuh perhatian. Semua itu terasa seperti nyata. Apalagi berbagai deskripsi yang diuraikan penulis tentang suasana sekeliling kampus yang begitu kental. Seperti diajak terlibat secara langsung dalam keseharian aktivitas kampus mereka. Saya menyukai setiap deskripsi yang terurai.

Ada sesuatu yang membuat segala hal di bawah langit sore itu terasa menyenangkan. Sesuatu yang begitu bermurah hati di langit, di atas enam orang dengan bola basket di sebelah kanannya, dan saf-saf putih di sebelah kirinya. Sesuatu yang indah ketika melihat mereka berbagi lapangan yang tak seberapa. Dan, dengan puluhan mahasiswa lain di atas lapak-lapak lapangan kampus itu, mereka saling berbagi udara. Meskipun mungkin mereka tak saling kenal dan berbeda. [hal 83]

Seperti yang pernah diutarakan penulis saat berbagi tip kepenulisan pada satu waktu, yakni melukis hidup, membuat momen sederhana menjadi spesial, sekecil apapun itu.

Di tengah-tengah lorong pintu itu, Piter muncul. Kamila terlonjak. “Ya Tuhan.”

“Maaf, Kak. Saya mau ngambil catatan… ketinggalan di kelas.”

“Jangan muncul tiba-tiba gitu! Kamu udah pernah keselek  remote proyektor?”

“Belum.”

“ Nganga, sini saya masukin.”

“Maaf, maaf”. [hal 38] 

Dan hal-hal sederhana seperti itu ternyata berhasil mencuri perhatian dan jadi sangat memorable.

Terlepas dari pesona Jupiter dan Finn yang barangkali membuat para pembaca mendambakan mereka jadi sosok yang real dalam kehidupan nyata ini – saya termasuk salah satu diantaranya, buku ini sarat akan pesan dan makna. Akan banyak dijumpai kalimat-kalimat yang quoteable di setiap beberapa balikan kertas. Tak bermaksud menggurui atau sok tahu, tapi memang begitulah kenyataannya. Lewat buku ini kita akan diajak merefleksi ulang sikap dan perilaku dalam keseharian kita, disadari atau tidak.

Tak semua orang bisa tetap menyayangimu setelah membukamu hingga ke kulit terakhir. [hal 127]

Orang-orang, saat mereka bertanya tentang hidupmu, tidak selalu berarti mereka peduli. Seringnya mereka hanya ingin tahu. Sekedar agar tahu, sekadar agar puas. Sebab kalau mereka benar-benar peduli, mereka justru tak akan banyak bertanya. Mereka akan menunggumu bercerita dengan sendirinya. [hal 133]

Orang mencintai dengan cara mereka masing-masing. Sebagian tak tahu bagaimana cara mencintai, tetapi bila mereka gagal melakukannya, bila cinta mereka gagal memperlihatkan diri, tak berarti mereka tak punya. Sesuatu yang tak tampak bukan berarti tak ada. [hal 174]

Nah! Satu lagi yang menjadi ciri khas penulis. Ia menyisipkan dongeng-dongeng sederhana dalam tulisan-tulisannya. Salah satunya di What If, ini. Memang buku-buku lain terkadang juga, sih. Tapi yang ini.. berbeda. Entahlah. Terasa menggetarkan.  Dan, diantara buku-buku yang pernah saya baca yang telah membuat saya berkesan, buku ini akan menjadi list anggota terbaru mereka. Karena bagi saya buku yang akan selalu teringat di hati itu mereka yang juga mengajak pembaca berpikir dan sekaligus merenung. Kenapa buku ini mengajak saya berpikir? Karena banyak kosakata baru yang saya temui, seperti, begajulan, keletak, terbetik, risik, menguit, dan masih banyak lagi – yang membikin saya penasaran untuk membuka kamus. Kenapa buku ini membuat saya merenung? Karena temanya yang open minded itu, serta rekomendasi buku-buku di dalamnya.

Karena..

In the end, only kindness matters. Only kindness matters. ~ What If