satu per satu teman akan pergi, 

berubah atau berlari dari

jangkauan 

kecewa, sedih tak akan pernah bisa dihindarkan 

meski sekuat tenaga t’lah diusahakan

biarlah itu mengalir jauh

sejauh yang mampu hati rasakan

biarlah itu berlalu sembuh

seperti luka yang mengering perlahan

Advertisements

Aside

seandainya tiap kali pikiran untuk berlaku sama seperti petingkah menyebalkan mereka melintas, pikiran lain mau menyusup –  kau bukan mereka dan mereka tidak melulu sama denganmu

there will be the time to let your friends go. to let them go to achieve their dreams. to let them go to coloring their whole life. you maybe wont be the closest friend does they have. they will find someone else. when the time has come.. trust yourself it is not the end.

kembali diingatkan

ada keindahan terpancar tatkala melihat kejadian “memberi”. bahwa pada dasarnya tak dibutuhkan suatu alasan yang cukup jelas ketika kita mau melakukannya. kesampingkan dulu nominal. juga pantaskah mereka yang menerima. keindahan itu nyata adanya saat kita sungguh tak tahu apa-apa. hanya sekedar memberi tanpa embel-embel apapun.

ia pengemudi motor pretelan yg membonceng teman di belakangnya. tergesa mencari-cari uang di saku kemeja tatkala mendapati serang bapak peminta tua di depan motornya. saat akhirnya ia berdiri merogoh saku celana menemukan dimana uangnya berada. tanpa pandangan mencela atau bangga sudah berbuat apa ia haturkan uang tadi ke bapak peminta. sementara teman di belakangnya tetap asyik duduk di boncengan sambil merokok ceria.

indah bukan memberi itu? satu hal yang mengingatkan bahwa sikap tak pamrih itu masih ada di sekitar kita

.