kala kita bertemu

teman..

kita pernah berada dalam satu lorong waktu yang sama,

sedih dan senang terasa, tanpa kita sadari

teman..

kita pernah berada dalam satu jalur waktu yang sama,

sesal dan kecewa melanda, tanpa kita sadari

Continue reading

Advertisements

Seiring Berjalannya Waktu

Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan mengerti mengapa kau tetap tinggal dan aku harus pergi

Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan tahu mengapa kau harus tegak berdiri sementara aku melihatmu dari jauh

Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan paham mengapa kau harus tegar selama aku memasrahkan diri

Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan sadar mengapa kau harus bersemi sementara aku kembali

Airmata

Ibuk jarang menangis. Beliau tidak menangis saat kedukaan tengah meliputinya di hari kepergian Embah dan Emak. Ibuk juga tidak menangis kala sakit kepala yang luar biasa atau pegal linu hingga kakinya serasa tak bisa dibuat berjalan tengah menderanya. Beliau jarang menumpahkan emosinya dalam sebulir air bening yang keluar lewat indra penglihatan itu. Jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah selama puluhan tahun ini. Beliau selalu menahan airmata itu keluar. Menahannya sekuat tenaga.

Namun, malam itu berbeda.

Sebulir airmata itu menetes dari kedua matanya. Sedih dan putus asa.

Dan, penyebab dari itu semua adalah – saya.

Continue reading

Tentang Seorang *Kawan

Aku mengenalmu pagi itu

di sebuah SD di tahun pertama ajaran baru

tersenyum riang dalam canda

bersama beberapa kawan sebaya

Rambutmu panjang sepunggung

selalu terkuncir rapi nan wangi

senyum khas yang hanya kau miliki

senyum lebar yang menampilkan gusi

Bersama…

kita lewati masa

hampir sewindu minus dua tahun lamanya

menapaki jalan setapak menuju sekolah tercinta

mengenal apa itu angka dan bahasa

memahami apa itu sejarah dan budaya

Continue reading

Teman Seperjalanan

Begitu berhasil masuk bus saya langsung mengedarkan pandangan mencari-cari dimana kursi kosong yang masih bisa saya duduki. Rupanya hampir di setiap baris masih tersisa mulai dari deret ketiga hingga seterusnya. Namun, ada satu kursi kosong dekat jangkauan saya berdiri di deret kedua. Sempat berpikir sejenak apakah akan duduk di situ atau kursi lainnya saja setelah menatap seorang perempuan yg akan menjadi teman seperjalanan saya kali ini.

Saya putuskan duduk – di sampingnya.

Kami saling bertatapan kemudian tersenyum sebentar. Beliau kembali fokus ke pemandangan sepanjang perjalanan sementara saya curi-curi pandang menatapnya – berharap tanpa sepengetahuan beliau.

Satu menit kemudian kami hanyut dalam perbicangan sederhana dan hangat.

Continue reading