suatu sabtu siang

sabtu siang itu kala matahari tengah bersinar dengan terangnya, saya melihat seorang kakek tua yang tengah bersimpuh di atas aspal depan stasiun kota. saya melewatinya. ya. hanya melewatinya. betapa sombongnya saya saat itu. hanya berjalan melewatinya tanpa ada keinginan untuk melakukan sesuatu. selesai mengangsurkan uang pada bapak tukang parkir saya mengambil sepeda. dari kejauhan masih sempat saya perhatikan sang kakek tadi. beliau masih duduk bersimpuh. pun tak ada seorang di sekitarnya yang berniat mengajaknya menepi, membantunya berdiri, atau hanya sekedar menengok. tak ada. tak ada seorangpun yang peduli. kemudian benak saya melayang sejenak. betapa berharganya kepedulian itu.

Advertisements

sore itu

ada pemandangan yang menakjubkan sekaligus menggetarkan hati saat tanpa sengaja pandangan mata ini terarah kepadanya. kepada seseorang yang sedang menghadap ke Sang Pencipta dalam hening khidmat di tengah riuh lalu lalang kesibukan orang-orang di sekitar, dalam sengatan hawa dingin seusai hujan mereda, meski hanya beralaskan sehelai koran yang terjajar di emperan sebuah toko.
ah! sudah berapa lama kiranya hati ini tak lagi tergetar menyaksikan kebahagiaan sederhana seperti itu? mungkin, bukan soal hati yang tak lagi tergetar melainkan pengabaian yang selalu terulang.