jangan menggenggam apapun terlalu erat.

tapi, bukankah kita memang tak pernah ada yang bisa menggenggamnya dengan cukup?
kita – selalu dan kerapkali, menggenggam dengan sepenuh tenaga. atau kadang sebaliknya. terlalu longgar.

Advertisements

suatu sabtu siang

sabtu siang itu kala matahari tengah bersinar dengan terangnya, saya melihat seorang kakek tua yang tengah bersimpuh di atas aspal depan stasiun kota. saya melewatinya. ya. hanya melewatinya. betapa sombongnya saya saat itu. hanya berjalan melewatinya tanpa ada keinginan untuk melakukan sesuatu. selesai mengangsurkan uang pada bapak tukang parkir saya mengambil sepeda. dari kejauhan masih sempat saya perhatikan sang kakek tadi. beliau masih duduk bersimpuh. pun tak ada seorang di sekitarnya yang berniat mengajaknya menepi, membantunya berdiri, atau hanya sekedar menengok. tak ada. tak ada seorangpun yang peduli. kemudian benak saya melayang sejenak. betapa berharganya kepedulian itu.

sore itu

ada pemandangan yang menakjubkan sekaligus menggetarkan hati saat tanpa sengaja pandangan mata ini terarah kepadanya. kepada seseorang yang sedang menghadap ke Sang Pencipta dalam hening khidmat di tengah riuh lalu lalang kesibukan orang-orang di sekitar, dalam sengatan hawa dingin seusai hujan mereda, meski hanya beralaskan sehelai koran yang terjajar di emperan sebuah toko.
ah! sudah berapa lama kiranya hati ini tak lagi tergetar menyaksikan kebahagiaan sederhana seperti itu? mungkin, bukan soal hati yang tak lagi tergetar melainkan pengabaian yang selalu terulang.

Seiring Berjalannya Waktu

Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan mengerti mengapa kau tetap tinggal dan aku harus pergi

Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan tahu mengapa kau harus tegak berdiri sementara aku melihatmu dari jauh

Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan paham mengapa kau harus tegar selama aku memasrahkan diri

Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan sadar mengapa kau harus bersemi sementara aku kembali

Airmata

Ibuk jarang menangis. Beliau tidak menangis saat kedukaan tengah meliputinya di hari kepergian Embah dan Emak. Ibuk juga tidak menangis kala sakit kepala yang luar biasa atau pegal linu hingga kakinya serasa tak bisa dibuat berjalan tengah menderanya. Beliau jarang menumpahkan emosinya dalam sebulir air bening yang keluar lewat indra penglihatan itu. Jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah selama puluhan tahun ini. Beliau selalu menahan airmata itu keluar. Menahannya sekuat tenaga.

Namun, malam itu berbeda.

Sebulir airmata itu menetes dari kedua matanya. Sedih dan putus asa.

Dan, penyebab dari itu semua adalah – saya.

Continue reading